Tempat Wisata Saung Ranggon Yang Wajib Kamu Kunjungi

Siapa yang mengira jika di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berdiri sebuah bangunan dengan usia sekitar 500 Tahun? Bangunan terbuat dari kayu yang terlihat masih terawat dengan sangat baik ini, “menyelip” di tengah perkampungan dan kerimbunan pepohonan. Dan menjadi tempat objek wisata di bekasi. Dengan keletakan pada 107º 0′.204″ BT  dan  06º 20′ 298″ LS , serta ketinggian 61 di  atas permukaan air laut. Selain sebuah rumah Belanda di Pabayuran, Gedung Juang Tambun, Gedung Papak, serta bekas tangsi di belakang Polresta Kota Bekasi. Ada satu peninggalan lainnya yang ‘ngumpet’ di pedalaman Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Situs Saung Ranggon namanya.

Saung Ranggon

Informasi rumah yang seluruhnya dibangun dengan kayu besi atau kayu ulin ini, sudah berdiri sejak sekira 400 tahun lalu. Banyak yang bilang ini sempat jadi tempat para wali, ada pula yang menceritakan ini bekas tempat pelarian keturunan Pangeran Jayakarta. Tapi dari penelusuran literatur maupun surfingdi internet dari berbagai sumber, diketahui situs ini sudah berdiri dari abad ke-16.

Tempat Putra Pangeran Jayakarta Bersembunyi di Saung Ranggon

Dari Sri Mulyati ini, sedikitnya bisa diketahui jejak sejarahnya. Situs ini ditemukan oleh Raden Abbas pada 1821, di mana Sri Mulyati mengaku sebagai keturunan ketujuh darinya.  Sebelumnya, situs ini dikenal sebagai “rumah” pelarian Pangeran Rangga, putra dari Pangeran Jayakarta, pasca-dikalahkan VOC pada 1619. Tak ada catatan pasti soal kapan saung ini tepatnya didirikan. Hanya disebutkan berasal dari abad ke-17 setelah Pengeran Jayakarta kalah dari VOC. Disebutkan pula, Pangeran Rangga mencari tempat yang jauh dari jangkauan VOC agar tak ditemukan.

Maka didirikanlah rumah bergaya rumah panggung seluas 7,6 meter x 7,2 meter. Dengan tinggi bangunan sekitar 2,5 meter diatas permukaan tanah. Interiornya terbuka tanpa sekat antar-ruangan, serta ada tujuh buah anak tangga di pintu utamanya. “Sebenarnya ini sih di bawahnya BCB (Bangunan Cagar Budaya) yang di Banten. Bangunannya kalau orang sini bilangnya kayu ki welang atau kayu ulin. Makanya awet. Dibuatnya tidak dipaku karena akan bengkok pakunya, makanya pakai pasak,” lanjut Sri. Hal ini diperlukan untuk menjaga keselamatan bagi penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas lainnya.

Pangeran Jayakarta merupakan tokoh dalam sejarah Betawi, khususnya Jakarta dan Bekasi. Pada masa kedatangan Belanda yang mencoba menanamkan kekuasaan atas daerah Jakarta dan Bekasi dan sekitarnya. Saung ini merupakan bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Menginjakkan kaki di area seluas 500 meter persegi ini. Telapak kaki kita akan dimanjakan dengan tanah yang dipasang batu-batu seukuran sekepalan tangan yang diatur dengan rapi. Susunan bebatuan ini terpasang hampir di seluruh penjuru area Saung Ranggon. Tidak ada keterangan sejak kapan bebatuan ini dipasang, apakah seusia dengan tuanya bangunan Saung Ranggon, ataukah terpasang pada waktu kini. Dan masih banyak tempat wisata di bekasi yang harus kamu kunjungi

Jadi Tempat Minta “Berkah”

Tapi di kemudian hari fungsi Saung Ranggon itu menjadi tempat menyimpan berbagai benda pusaka. Dan yang lebeh unik lagi bahwa Saung Ranggon kini menjadi tempat ziarah orang-orang yang memerlukan ”bantuan” dalam menghadapi kenyataan hidup. Tujuan orang berziarah tersebut bermacam-macam. Mulai dari keinginan untuk keselamatan, naik pangkat atau untuk meminta berkah karena akan melakukan hajatan di rumahnya. Orang-orang yang datang ke Saung Ranggon bukan saja masyarakat setempat tetapi ada yang dari luar Bekasi.

Pantangan yang ada apabila memasuki Saung Ranggon ini adalah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau ”sompral”. Saung Ranggon tidak ditempati secara khusus oleh penjaga. Tetapi dipergunakan sebagai tempat menyepi bagi orang yang datang (tamu) untuk minta berkah atau karomah. Ramainya Saung Ranggon oleh pengunjung pada waktu-waktu tertentu terutama malam Jumat Kliwon, Sabtu Suro, Maulid Nabi, Rajaban. Ritual yang dilakukan untuk karuhun dipimpin oleh kuncen Bapak Tholib dengan memakai sarana untuk sesajen. Yaitu bunga-bunga dan buah-buahan yang terdiri 7 macam yang dipersembahkan untuk para karuhun dengan memanjatkan doa.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!