Tempat Wisata Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan

Kalimantan Selatan yang memiliki masyarakat bertumbuh dan berkembang di atas sungai. Yang menjadikan mereka pengarung perairan yang sangat handal, sungai ini menjadi salah satu perkembangan masyarakat Banjar. Sungai tidak hanya menjadi media transportasi saja, namun sumber perputaran roda ekonomi. Ada 3 pasar terapung di Kalimantan selatan ini, tapi yang sangat terkenal adalah Pasar Terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung Lok Baintan

Yang terletak di sungai Martapura, Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, pasar lok baintan ini memiliki jam operasional dari waktu subuh. Hingga sekitar pukul 9.30, pasar ini yang dapat di kunjungi dengan naik perahu motor. Yang memiliki kapasitas penumpang maksimal 15 – 20 orang.

Dari pusat kota Banjarmasin waktu tempuhnya sekitar 60 hingga 90 menit. Tergantung kondisi arus sungai yang berada di tiap musimnya. Dan untuk saat ini sudah ada akses melalui jalan darat. Untuk mencapai Desa Lok Baintan dengan lama perjalanan yang relatif sama. Namun kita akan mendapatkan sensasi yang berbeda baik saat berangkat maupun saat pulang melalui jalur sungai.

Keseruan Berbelanja Di Pasar Terapung Lok Baintan

Bisa bayangkan seperti apa seru nya berbelanja di atas perahu, di pasar terapung Lok Baitan. Para pembeli bisa berbelanja dari pinggir sungai atau dengan menaiki perahu klotok. Sambil menaiki perahu kayu atau jukung, dan para penjual pun menawarkan dagangannya.

Kebanyakan pedagangan adalah ibu – ibu atau yang bisa di panggil acil – acil dalam bahasa banjar. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak dapat di temukan di perkotaan bukan?. Para pembeli atau wisatawan pun boleh meminta untuk foto bersama para pedagang dengan menggunakan topi capil nya. Baca juga tempat wisata benteng anoi itam

Tersedia Beragam Dagangan

Terdapat berbagai jenis dagangan yang sangat di tawarkan, mulai dari sayur, buah, ikan asin. Hingga beragam kerajinan tangan, belanja yang tidak boleh dileatkan adalah buah – bauhan khas Kalimantan seperti jeruk siam Banjar. Ada juga buah lain seperti buah mentega, mundar, serta kasturi yang memiliki rasa unik dan sulit ditemukan di tempat wisata Kalimantan lain nya. Ada pula tradisi unik yang berbelanja di sini. Yakni ketika para acil menjual dagangannya, mereka akan mengatakan. “Dijual ya”, sedangkan para pembeli juga harus menjawab “dibeli ya”. Baca juga pantai anoi itam

Akad Menurut Kitab Sabilal Muhtadin

Kegiatan jual – beli di pasar terapung ini yang lebih di domininasi. Oleh emak – emak atau dalam bahasa Banjar di sebut acil – acil. Meskipun ada juga pedagang maupun pembeli laki – laki, pada umumnya pedagang dan pembeli di pasar ini menggunakan jukung (perahu Kecil). Namun tidak sedikit penduduk sekitar pasar yang membeli dari pinggiran sungai saja. Mulai dari hasil pertanian, hasil sungai, hingga kue-kue camilan yang juga laris manis. Dibeli wisatawan sebagai sarapan ringan di atas kelotok mereka.

Transaksi antar pedagang pun tidak jarang menggunakan sistem barter atau tuker – menukar barang dengan barang. Namun pada umumnya taransaksi yang di lakukan dengan uang. Ada yang menarik dalam budaya masyarakat Banjar dalam melakukan transaksi. Masyarakat Banjar adalah masyarakat yang taat beragama baik secara individu maupun kolektif. Sejak masyarakat Banjar memeluk agama Islam. Mereka diajarkan oleh pemuka agama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 masehi).

Untuk melakukan akad jual-beli pada saat bertransaksi yang tertuang dalam kitabnya yang terkenal, Sabilal Muhtadin. Pedagang akan menyebutkan kata “jual /dijual” dan pembeli akan menyahut dengan kata “tukar/ditukar” yang berarti membeli saat transaksi dilakukan. Budaya yang melambangkan sah nya transaksi perdagangan tersebut. Yang diturunkan secara turun – temurun dalam budaya masyarakat Banjar dimana saja. Akad yang dahulu dilakukan di atas jukung, kini dilakukan pula di darat.