Menelusuri Sejarah Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Sumedang salah satu kabupaten di Provinsi di Jawa Barat. Yang memiliki sejarah dan kebudayaan yang panjang. Lantas, bagaimana cara mengetahui awal berdiri nya Kabupaten Sumedang ini. Sumedang ini memiliki banyak tempat wisata yang banyak sekali sejarah nya. Berlibur ke Sumedang, bisa menjadi pilihan untuk mengisi liburan panjang sekolah. Kalau kamu tinggal di kota besar seperti Jakarta, Sumedang bisa menjadi pilihan yang pas. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Ibu kota. Dan memiliki banyak sekali tempat wisata di Sumedang yang menarik. Bukan hanya terkenal dengan tahu khas Sumedang yang rasanya lezat, tempat ini juga terkenal dengan berbagai tempat wisatanya yang Indah. Jika berlibur ke sini kamu tidak akan bosan. Karena banyak sekali tempat menarik yang bisa kamu kunjungi. Dan salah satu objek wisata sumedang ini adalah Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Berdiri nya Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Peninggalan benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang. Sejak Raja-raja kerajaan Sumedang Larang dan Bupati yang memerintah Kabupaten Sumedang pada jaman dahulu. Merupakan koleksi yang membanggakan dan besar artinya bagi kita semua. Terlebih bagi keluarga Sumedang. Kumpulan benda-benda tersebut di simpan di yayasan pangerang Sumedang sejak tahun 1955. Timbullah suatu gagasan, ingin memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang. Khususnya dan masyarakat di luar Sumedang pada umumnya. Bahwa di Sumedang dahulu terdapat kerajaan besar yaitu Kerajaan Sumedang Larang. Dengan melihat benda-benda peninggalan Raja-raja tersebut dan sebagainya. Gagasan tersebut ditanggapi dengan penuh keyakinan oleh keluarga, maka direncanakan membuat museum.

Setelah diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, lima tahun setelah tahun 1968 baru terlaksana. Tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga berdiri. Kemudian nama museum menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan baru untuk memudahkan generasi baru membacanya. Gedung yang dipergunakan untuk museum yaitu Gedung Srimanganti, Bumi Kaler, Gedung Gendeng dan Gedung Gamelan. Pada tahun 1980. Pemerintah melalui Dinas Jawatan Permuseuman dan Kepurbakalaan Kebudayaan Jawa Barat, mengulurkan tangan dan memugar Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler. Pada hari rabu tanggal 21 April 1982. Direktur Jenderal kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Profesor DR. Haryati Soebadio, meresmikan dan menyerahkan kedua bangunan yang selesai di pugar kepada yayasan Pangeran Sumedang. Dan bernaung di bawah momenten Ordonnatie Nomor 19 Tahun 1933 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238).

Letak Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang

Museum prabu geusan ulun terletak di tengah kota Sumedang. 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan. Yang berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan gedung-gedung pemerintah. Jarak dari Bandung 45 kilometer. Sedangkan jarak dari Cirebon 85 Kilometer, jarak tempuh dari Bandung 1 jam. Sedangkan dari Cirebon 2 jam.

Lokasi Strategis Di Pusat Kota

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di pusat keramaian dan mudah ditemukan pengunjung. Museum ini dekat dengan Alun-alun Sumedang.

Arsitektur Bangunan

Museum Prabu Geusan Ulun dikelilingi tembok sepanjang kompleks pemerintahan. Museum ini memiliki luas sekitar 1,8 hektare dihiasi banyak pohon besar. Bangunan yang didirikan 16 Agustus 1797 ini bergaya klasik.

Kegiatan

Setiap pada akhir pekan, pengelola museum menggelar berbagai kegiatan seperti penampilan gamelan dan juga seni jaipong. Baca juga tempat wisata religi masjid agung sumedang

Benda-Benda Pusaka

Di museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, pengunjung akan menemukan berbagai benda pusaka dan juga senjata peninggalan kerajaan. Benda pusaka paling menarik yaitu mahkota binokasih. Mahkota binokasih merupakan mahkota yang di berikan kerajaan pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun Sumedang. Selanjut nya, terdapat senjata pusaka kerajaan Sumedang larang seperti keris, kujang, tombak, dan juga meriam kecil. Senjata ini di gunakan Kerajaan Sumedaang Larang. Saat pertempuran melawan VOC dan kerajan nusantara.

Gedung Berada Di Museum Prabu Museum Ulun Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang ini di kelilingi oleh tembok atau dinding. Yang memiliki tinggi 2,5 meter. Di buat pada tanggal 16 Agustus 1797. Luas halaman Museum seluas 1,88 hektare. Dengan hiasan taman-taman yang di tanami pohon-pohon langka. Gedung yang berada di sekitarnya terdiri dari :

Srimanganti

Didirikan pada tahun 1706 masa pemerintahan Dalem Adipati Tanumaja dari tahun 1706 – 1709. Pendirian gedung tersebut direncanakan oleh Pangeran Panembahan yang memerintah dari tahun 1656 – 1706.  Yang pernah diserbu oleh laskar-laskar Cilikwidara cs dari pasukan gabungan Banten.  Sejak selesai dibangun, maka pemerintahan pindah ke daerah baru yang disebut Regol. Sejak itu Srimanganti dijadikan gedung tempat tinggal dan kantor oleh para bupati tempo dulu. Sedangkan untuk keluarga dibangun Bumi Kaler.

Empang

Di tepi Empang, dibangun Bale Kambang, tempat istirahat bagi keluarga para Bupati dan Tamu-tamu Agung, sambil memancing ikan dengan di hibur Gamelan Buhun atau Degung. Masa pemerintahan Pangeran Asia Soeria Atmadja dari tahun 1882 – 1919. ikan yang ada di Empang diganti dengan ikan Kancra.  sehingga merupakan peternakan ikan Kancra yang beratnya bisa mencapai 10 atau 15 kilogram. Ikan Kancra tersebut diambil setiap bulan Mulud, untuk keperluan pesta Maulid Nabi Muhammad SAW. Yang Dibagikan kepada fakir miskin dan juga sebagai nya.

Lumbung Padi

Semula Lumbung Padi terletak di luar benteng di tepi Empang, demi keamanan kemudian dipindahkan ke dalam komplek di dalam benteng. Lumbung tersebut dipergunakan tempat menyimpan padi hasil dari sawah-sawah wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Padi tersebut dipergunakan untuk menyumbang wargi-wargi yang tidak mampu, sampai sekarang tercatat sejumlah 180 keluarga yang disumbang, besarnya hampir 12 ton per bulan. Dan keperluan pemeliharaan pusaka-pusaka, wakaf dan pelestarian seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja.

Gedung Yayasan Pangeran Sumedang

Di dirikan tahun 1955, Yayasan Pangeran Sumedang yang mengelola seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Museum Prabu Geusan Ulun juga. Makam-makam seperti :

  • Makam Gunung Puyuh
  • Makam Gunung Ciung Pasaran Gede
  • Makam Gunung Lingga
  • Makam Dayeuh Luhur
  • Makam Manangga
  • Makam Panday
  • Makam Sunan Pada – Karedok
  • Makam Nyai Mas Gedeng Waru – Cigobang
  • Makam Prabu Gajah Agung – Cicanting, Kampung Sukamenak, Kecamatan Darmaraja
  • Makam Prabu Lembu Agung – Cipaku, Kecamatan Darmaraja

Gedung Bengkok / Gedung Negara

Di dirikan pada tahun 1850. Masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata ( Pangeran Soegih ). Dari tahun 1836-1882. Gedung tersebut didirikan di atas tanah dia untuk keperluan upacara-upacara resmi. Peristirahatan bagi tamu-tamu dari Jakarta jika berkunjung ke Sumedang. Halaman Gedung Bengkok cukup luas, di depan dibuat taman-taman dan ditanami dengan pelbagai buah-buahan. Di bagian barat didirikan Panggung Gamelan untuk menyimpan gamelan-gamelan kuno. Di bagian belakang sebelah barat, sekarang SMP Negeri 2 Sumedang memajang istal kuda dan tempat menyimpan kereta-kereta, diantaranya Kereta Naga Paksi. Sedangkan di belakang gedung dibuat kolam yang besar disebut Empang, yang kedalamannya setinggi bambu dan berbentuk kerucut.

Bumi Kaler

Di dirikan pada tahun 1850. Masa pemerintah Pangeran Soeria Koesoemah Adinata(Pangeran Soegih) dari tahun 1836-1882. Berhadapan dengan Kidul. Sayang nya pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Atmaja(Pangeran Mekkah). Bumi kaler di buat keseluruhan nya dari kayu jati, dan di atas tiang bentuk nya khas rumah orang sunda. Dengan ruangan-ruangan dan juga kamar-kamar yang luas. Sedangkan jendela dan pintu-pintu nya yang tinggi.

Gedung Gamelan

Didirikan pada tahun 1973 oleh pemerintah daerah Sumedang atas sumbangan dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Yaitu Bapak H. Ali Sadikin. Gedung tersebut di peruntukan tempat menyimpan gamelan-gamelan dan juga tempat berlatih tari-tarian.