Sejarah Tempat Wisata Museum Negeri Aceh Yang Sangat Indah

Ketika anda pergi ke Bandar Aceh, ini maka anda sudah di tawarkan beberapa tempat wisata Aceh. Yang telah memiliki daya tarik sehingga tidak pernah sepi di kunjungi oleh wisatawan salah satunya yaitu Museum Negeri Aceh. Museum Negeri Aceh ini yang merupakan sebuah museum memiliki berbagai macam.

Jenis koleksi dari peradaban Aceh masa lampau, disini bisa ditemukan. Banyak sekali koleksi antik mulai dari benda zaman prasejarah, masa sejarah. Hingga benda – benda yang identik dengan masa kolonial Belanda. Selain itu juga wisatawan bisa melihat berbagai koleksi etnolografi yang berkaitan dengan kebudayaan Aceh.

Museum Negeri Aceh

Secara geografis, letak Museum Negeri Aceh ini berada pada Jalan Alauddin Mahmud Syah, Desa Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Letaknya juga cukup strategis, berada di jantung Kota Banda Aceh membuat. Setiap wisatawan yang ingin berkunjung bisa menemukan museum ini dengan mudah. Selain itu, para pengunjung bisa menggunakan berbagai kendaraan umum atau juga kendaraan pribadi.

Pada mulainya Museum Negeri Aceh yang hanya memiliki satu bangunan yaitu Rumoh Aceh. Yang merupakan rumoh tradisional masyarakat Aceh, namun seiring berjalannya waktu pemerintah pun pada akhirnya merenovasi. Perbaiki dan juga penambahan gedung baru yang di sebut Gedung pameran tetap.

Sejarah Museum Negeri Aceh

Museum Negeri  Aceh yang didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh. Letnan Jenderal Henri Nicolas Alfred Swart (lahir di Cibitung, 12 Oktober 1863) pada tanggal 31 Juli 1915. Bangunannya merupakan sebuah rumah Aceh (Rumoh Aceh) yang berasal dari Paviliun Aceh. Yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoosteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

museum negeri aceh tempo dulu

Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang tersebut, Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi. Yang sebagian besar adalah milik pribadi Friedrich Wilhelm Stammeshaus (lahir di Sigli, 3 Juni 1881). Yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh yang pertama. Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka para pembesar Aceh. Sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan paviliun yang paling lengkap koleksinya.

Setelah Indonesia merdeka, Museum Aceh menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah daerah Tingkat II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini. Setelah pemindahan ini, pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat

Museum Negeri Aceh

Pembangunan Museum Negeri Aceh sendiri yang di lakukan pada masa pemerintah Hindia Belanda. Dan di resmikan oleh Gubernur Sipil dan militer Aceh. Pada waktu itu yang dijabat oleh Jendral H.N.A Swart sekitar 1915. Sedangkan untuk Kepala Museum sekaligus Kurator, ditunjuklah Friedrich Wilhelm Stammeshaus yang menjabat hingga tahun 1931.

Sebenarnya Stammeshaus yang merupakan seorang pekerja di bidang kesehatan bertugas untuk angkatan darat. Namun karena kecintaannya pada etnografi, serta benda bersejarah maka beliau setuju ketika ditunjuk sebagai kepala museum sekaligus merangkap kurator. Koleksi dari Stammeshaus juga dikenal hingga ke berbagai pelosok negeri, banyak pula koleksi di museum ini adalah milik beliau pribadi.

museum negeri acehh

Pada saat itu museum negeri Aceh yang masih berumah Rum0h Aceh yang berbentuk. Seperti rum0h panggung dari konstuksinya bisa di bongkar pasang. Rum0h Aceh juga sempat memgikuti sebuah pameran kolonial di semarang dalam acara ini sebagai koleksi dari stammeshaus di pertontonkan. Setya dengan di tambah beberapa koleksi yang berupa Peninggalan kesultanan Aceh.

Dalam pameran tersebut, Rumoh Aceh berhasil memperoleh predikat sebagai pavilliun terbaik. Dan berhak membawa pulang hadiah berupa 4 medali emas, 11 perak, dan 3 medali perunggu dari berbagai kategori. Koleksi yang dimiliki Museum Negeri Aceh ini tergolong cukup lengkap. Wisatawan bisa melihat benda-benda bersejarah seperti mata uang kuno, keramik, guci, koleksi tentang geologi, dan masih banyak lagi.

Koleksi Museum Negeri

Dimuseum Negeri Aceh yang terdapat beberapa maket dari Masjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa. Dan selain dalam museum wisata juga bisa melihat foto – foto para pahlawan Aceh. Serta Foto tentang perjuangan masyarakat Aceh mengusir belanda. Benda-benda seperti pistol kuno, rencong, meriam serta senjata tradisional Aceh menjadi pelengkap museum.

Dari sekian banyak koleksi, yang mampu menarik perhatian wisatawan adalah adanya lonceng kuno yang diperkirakan usianya telah mencapai 1.400 tahun. Lonceng tersebut dikenal dengan nama “Lonceng Cakra Donya”. Yang merupakan hadiah Kaisar Cina dari Dinasti Ming ke Kesultanan Pasai pada abad ke 15. Lonceng tersebut dibawa oleh Laksamana Ceng Ho saat perjalanannya ke nusantara. Serta tidak hanya itu saja dekat museum juga terdapat kompleks makam dari Sultan Iskandar Muda. Museum yang memiliki naskah – naskah kuno atau manuskrip peninggalan yang berupa areologi. Dari sejarah masa prasejarah hingga koleksi fauna yang diawetkan.

Lokasi Menuju Museum Negeri

Museum ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Museum Negeri Aceh ini yang di buka pada hari selasa hingga minggu Pukul 08.30 – 12.00 dan 14.00 – 16.15. Untuk harga tiket masuk anak – anak Rp. 2000 dan untuk orang dewasa Rp. 3000. Sedangkan untuk orang asing harga tiket sebesar Rp. 5000. Baca juga museum tsunami aceh

Jam Operasional Museum Negeri Aceh

Museum Negeri Aceh dibuka untuk umum pada hari Selasa hingga Minggu pukul 08.30 – 12.00 WIB dan 14.00 – 16.15 WIB. Museum tutup pada hari Senin dan hari libur nasional. Untuk harga tiket masuk museum, anak-anak cukup membayar Rp. 2.000 sedangkan untuk pengunjung dewasa Rp. 3.000. Untuk wisatawan asing harga tiket masuk sebesar Rp. 5.000. Baca juga tugu nol mkilometer