Tempat Wisata Museum Bale Indung Rahayu Purwakarta

Bale Indung Rahayu (Tempat Kemuliaan Ibu) terutama bertutur tentang. Proses kelahiran manusia dan peran seorang ibu yang merawatnya dengan sentuhan budaya Sunda. Ia sebagai pengingat agar setiap orang terus eling terhadap jati dirinya. Lahir, tumbuh, dan mati adalah penggalan-penggalan hidup yang dilalui dan harus direnungkan. Sehingga sejak dari pola pengasuhan, soal mainan, makanan, pola hidup, rumah dan bertani. Sampai soal kematian tergurat jelas melalui seni relief, lukisan, pahat, dan bangunan di sini. Di museum ini diharapkan manusia bisa kembali merefleksikan falsafah hidup, budi pekerti, kearifan alam. Peran  indung (ibu) hingga dzikrul maut atau mengingat kematian. Pendeknya, Bale Indung Rahayu adalah ikhtiar Purwakarta untuk mengingatkan kembali. Proses relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah SWT dalam rengkuhan kasih Ibu.

Bale Indung Rahayu

“Lampah hirup dilakonan, kasih indung marengan, samping jangkung gelung jucung, awak rengkung disebakeun, sesa umur dianteurkeun. Ngaguru ku kabodoan, ikhlas eusi kapinteran, ciduh metuh jajampean, ajeg lampah dilakonan…” “Jalan kehidupan dilakoni, cinta kasih bunda menyertai, kain ditinggikan sanggul diikatkan, badan bungkuk ditegakkan, sisa umur dihantarkan. Berguru karena kebodohan, ikhlas mengisi kepintaran, ludah mantera (doa) makbul, tegar melangkah dilakoni…” Sepenggal lagu berjudul “Indung” itu membuka perjalanan menuju Bale Indung Rahayu. Lagu yang kental dengan makna filosofis itu menggambarkan kecintaan, kerja keras, bakti, seorang ibu kepada keluarga dan anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang tidak mengenal lelah. Ibu sanggup mengorbankan apapun agar anaknya sukses dan bahagia. Seorang ibu bisa menahan sakit dan kepedihan demi senyuman anaknya. Bahkan, sejak dalam kandungan, di berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan sang anak.

Sejarah Bale Indung Rahayu

Diawali dengan sebuah lorong berwarna gelap, pengunjung akan disuguhkan cerita perjalanan janin dari usia 0-9 bulan. Kisah itu diiringi dengan suara tangisan bayi yang baru lahir. Uniknya, cerita itu disajikan dalam bentuk lorong gelap dan sempit. Kisah yang seolah menggambarkan seorang bayi dalam kandungan dan bersiap untuk melihat dunia luas. Ketika keluar dari lorong, anda akan melihat ruangan yang sangat besar, terbuka, dengan atap tinggi dan luas. Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak kisah. Dimulai dengan cerita ungkapan Sunda yang sering mengiringi seorang ibu ketika hamil dan melahirkan. Misalnya, ungkapan “Hayu geuwat tuturkeun bapa!”. Ungkapan itu biasanya diucapkan seorang suami ketika istrinya mengalami masalah dalam persalinan atau berhenti mengedan. Suami mengucapkan sambil membawa segayung air. Dan mengusapkannya ke ubun-ubun sang istri, rahim. Sisanya dibawa melangkahi rahim lalu ke luar rumah sambil mengatakan “hayu geuwat tuturkeun bapa!”.

museum bale indung rahayu

Cerita Lukisan Dan Permainan

Tidak heran. Jika jauh dari lukisan tersebut terdapat beberapa cerita tentang upacara yang biasa dilakukan selama hamil dan melahirkan, seperti tujuh bulanan. Ada pula penanggalan sunda yang dibuat unik seperti permainan. Ruangan besar ini pun berisi beberapa permainan anak Sunda zaman dulu. Bentuknya berupa lukisan, foto, hingga beberapa bentuk fisik yang dimainkan, seperti congklak. Namun, ada pula beberapa jenis mainan yang hanya di panjang dan tidak boleh dimainkan. Di sekeliling ruangan bagian atas terhampar lukisan hutan yang sangat indah.

Seolah ingin menggambarkan bahwa Tanah Sunda identik dengan hutan dan alam yang harus dijaga. Lukisan ini pun membuat pengunjung seperti berada di tanah Sunda tempo dulu. Tepat di tengah ruangan, terdapat dua buah leuit atau tempat wisata Purwakarta orang Sunda menyimpan padi yang baru di panen nya. Tidak jauh dari situ, terlihat lisung atau wadah menumbuk padi menjadi beras. Pada zaman dulu, menumbuk padi menjadi beras dilakukan berbarengan. Suara yang dihasilkan saat menumbuk pada membentuk irama menyenangkan sehingga orang yang menumbuknya semangat dan tidak terasa lelah. Melengkapi leuit dan lisung, terdapat patung mini berwarna putih yang menggambarkan upacara Seren Taun di Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi. Seren taun ini merupakan upacara besar yang ditandai dengan ketua adat. Abah Ugi, memasukkan padi pertama hasil panen ke dalam leuit.

Persemian Bale Indung Rahayu

Bale Indung Rahayu baru saja dibuka ketika saya berkunjung pada Sabtu pagi, 9 Juli 2017. Belum ada satu pun pengunjung di dalam museum yang belum diresmikan itu. Setelah selesai mengisi daftar pengunjung, hadir rombongan dari Bekasi yang menggunakan satu bus. Museum itu berdiri gagah di Jalan R.E. Martadinata atau yang lebih dikenal dengan Jalan Tengah, Purwakarta, Jawa Barat. Memang, Bale Indung Rahayu sudah bisa dinikmati masyarakat umum secara gratis meski belum diresmikan. “Buka Senin sampai Jumat, pukul 09.00 sampai 15.30 WIB. Sabtu Minggu buka sesekali, tapi buat tamu pentingnya Bapak (Dedi Mulyadi) aja,” ucap Sahdan Mulya Nugraha, salah satu pemandu.

Ia menambahkan, untuk masyarakat umum yang ingin berkunjung pada Sabtu Minggu, harus konfirmasi dulu ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Purwakarta. Museum yang memiliki arti nama tempat wisata Kemuliaan Ibu itu memiliki beberapa ruangan. Mulanya, saya disuguhi lorong yang menggambarkan proses sembilan bulan kehamilan. Gambaran posisi janin berusia satu hingga sembilan bulan tertempel di sisi kiri lorong. Istilah dalam bahasa Sunda melengkapi gambar-gambar tersebut. Salah satunya, istilah “sujud mohon ijin ka buana (bumi)” untuk janin berumur sembilan bulan.

Tentang Bale Indung Rahayu

museum bale indung rahayu

Museum itu menghabiskan lahan sekitar 600 meter persegi, dulunya merupakan Gedung PKK dan gedung serba guna. “Jadi (dulu) di sini itu aula, biasanya dipakai buat rapat, nikahan. Lantai atas masih Gedung PKK, aula serba gunanya disulap menjadi museum,” terang pemandu berbaju batik. Semua tembok bagian dalam museum dicat warna hitam. 11 April 2017 lalu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menggelar acara syukuran ulang tahunnya di pelataran museum. Sejak itu, museum mulai menerima kunjungan dari tamu-tamu khusus, salah satunya Ketua MPR Zulkifli Hasan. Proses pembangunan dimulai sejak akhir tahun 2016. Museum itu awalnya diberi nama Museum Ki Sunda. Namun pada akhirnya diberi nama Bale Indung Rahayu karena terinspirasi dari ibunya Bupati Purwakarta itu. “Saking cintanya Pak Dedi sama ibu.

Museum ini juga menjelaskan kebudayaan manusia Sunda, dari mulai lahir, beranjak dewasa, sampai meninggal,” kata Sahdan. Ia juga mengatakan, selain merupakan persembahan Dedi Mulyadi untuk ibunya. Bale Indung Rahayu berupaya mengingatkan agar manusia tidak sekedar hidup tanpa meninggalkan jejak di dunia. Namun, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitar tanpa melupakan asal-usulnya. Hal itu digambarkan dengan display Konsep Kosong di ruang terakhir. Seorang pengunjung, Nur Iman Ekasaputra, mengaku terkesan dengan Bale Indung Rahayu. “Berkesan karena menceritakan bagaimana kehidupan seseorang ketika masih dalam kandungan sampai akhir hayat,” ucap Iman. “Penuh dengan nilai artistik dan sejarah, pelayanannya juga ramah,” tambahnya. Di penghujung terdapat kutipan, “Nilai-nilai budaya akan timbul kembali menjadi jati diri manusia Sunda apabila ia menyadari siapa dirinya. Siapa leluhurnya, di mana kita berada, dan untuk apa kita hidup yang sesungguhnya”.(ded/ded)

sumber : Wikipedia

Pencarian Terbaru: