Tempat Wisata Masjid Agung Sumedang Jawa Barat

Sumedang yang merupakan salah satu kota di Jawa Barat ini terkenal akan semboyan nya Tandang Nyandang Kahayang. Kota Sumedang juga di kenal dengan makanan tahu Sumedang nya. Hingga ke berbagai tempat di Indonesia. Makanan tersebut memiliki ciri khas tersendiri yang sangat enak dan unik. Maka tak heran para masyarakat yang bukan merupakan asli dari Sumedang. Sangat menyukai tahu Sumedang. Kota ini juga dahulu merupakan sebuah kota dari tempat pengasingan seorang Srikandi dari Nangroe Aceh Darussalam. Yaitu Cut Nyak Dien. Beliau yang di asingkan ke Sumedang pada saat Belanda berkuasa di Indonesia. Bahkan beliau juga di makam kan di sana. Dan hingga pada saat in pemakaman tersebut menjadi salah satu objek wisata religi. Masjid Agung Sumedang

Masjid Agung Sumedang

Tidak hanya kenal dengan tahu Sumedang. Di kota ini juga terdapat sebuah bangunan masjid yang telah lama di dirikan. Masjid tersebut bernama bangunan Masjid Agung Sumedang. Hingga saat ini objek wisata religi tersebut menjadi tempat wisata Sumedang. Untuk beribadah umat muslim yang terbesar di Kabupaten Sumedang. Lokasi nya pun sangatlah strategis, karena berada di pusat Pemerintahan Kabupaten Semarang. Tepat nya berada di Jalan Prabu Geusan Ulun, Kelurahan Regol Wetan. Kecamatan Sumedang selatan, Kabupaten Sumedang di Jawa Barat. Selain itu, berada di alun-alun kota Sumedang yang selalu ramai setiap hari nya. Menjadikan Masjid Agung Sumedang yang selalu di penuhi oleh para jamaah.

Sejarah Masjid Agung Sumedang

Masjid Agung Sumedang dibangun sejak tahun 1850 Masehi. Masjid ini terletak di lingkungan Kaum RW 10, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang. Dari cerita yang berkembang secara lisan, saat mendirikan Masjid Agung Sumedang. Secara kebetulan bersamaan dengan masuknya sejumlah imigran dari daratan Tionghoa ke Sumedang. Konon saat itu, terdapat etnis Tionghoa yang datang ke Sumedang. Dengan hidup nomaden. Etnis Tionghoa dikenal sebagai bangsa yang memiliki keterampilan berniaga dan bertani. Selebihnya mereka menguasai ilmu beladiri yang disebut Kun Taw serta piawai dalam membangun rumah ibadah.

Dan mengukir ornamennya. Dikisahkan, kelompok etnis Tionghoa tersebut ingin menunjukkan eksistenis nya dengan cara menjajal ilmu bela diri mereka. Dengan penduduk di sekitar Sumedang kota. Maka di pertemukanlah mereka dengan sejumlah tokoh Sumedang. Yang memiliki ilmu bela diri. Apalagi di daerah kaum konon pernah ada tempat khusus. Yang disebut kalangan atau arena tempat bertanding atau berlatih beladiri. Dan terjadilah pertandingan sengit antara kedua belah pihak. Dari pertarungan kedigjayaan itu, berakhir dengan kekalahan kelompok etnis Tionghoa. Sebagai tanda menyerah, mereka bersedia mengabdikan diri kepada para tokoh Sumedang. Mereka membantu mendirikan Masjid yang di gagas oleh Pangeran Soegih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinatayang. Yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Sumedang. Pada tahun 1836-1882. Oleh pangeran soegih ini, mereka diberi tempat sebagai lokasi pemukiman. Di sebelah utara pusat pemerintahan, hingga kini tempat tersebut bernama gunung Cina.

Perkiraan Pembangunan Masjid Agung Sumedang

Masjid agung sumedang ini di perkirakan telah di bangun pertama kali 1781 – 1828. Pada masa pemerintah Bupati Sumedang Pangeran Korner. Kemudian pada masa pemerintahan pangeran Soeria Koesoemah Adinata bergelar Pangeran Sugih. Pada tahun 1836-1882 M masjid ini dipindahkan dari lokasi lama ke kampung Sukaraja ke lokasi baru dikampung baru. Bangungan Masjid yang baru dibangun diatas lahan wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah seluas 6755 meter persegi. Pembangunan masjid di mulai tanggal 3 Juni 1850. Serta diselesaikan tahun 1854M dengan Imam pertama, Penghulu R.H. Muhammad Apandi. Pangeran Kornet terkenal dengan keberaniannya menentang penjajahan Belanda. Keberaniannya itu dibadikan dalam patung peringatan yang di cadas pangeran. Patung ini mengabadikan Pangeran Korner yang sedang bersalaman dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda Jendral HW. Daendles, Saking marahnya beliau kepada Belanda, Pengeran Korner bersalaman dengan Deandles menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanannya dalam posisi siaga.

Pemugaran Serta Restorasi

Untuk pemugaran yang telah di lakukan antara lain di awali pada tahun 1913M oleh pengeran Aria Soeriaatmadja. Dengan gelar Pangeran Mekah, kedua kalinya pada tahun 1962 M. Ketiga tahun 1982 kemudian direstorasi tahun 2002. Dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dani Setiawan Tanggal 22 April 2003. Restorasi tahun 2002 tersebut adalah upaya Pemerintah Kabupaten Sumedang Untuk melestarikan aset budaya yang tidak ternilai harganya itu. Pemkab Sumedang kemudian memprakarsai untuk melakukan restorasi pada bangunan tersebut.

Tidak tanggung – tangung, demi mempertahankan keaslian arsitektur masjid ini, restorasi. Yang dilaksanakan tahun 2002 itu, menghabiskan anggaran senilai Rp 4,2  miliar. Restorasi ini meliputi perbaikan lantai, atap, dan ornamen. Penataan halaman, pemagaran, pemugaran tempat wudhu. Untuk menabah kesan megah masjid ini yang merupakan perpaduan arsitektur etnis Tionghoa. Dan islam itu kini untuk bagian selatan ini bagunannya di dirikan merana setinggi 35,5 meter. Sedangkan untuk memberikan rasa nyaman bagi mayarakat yang datang ke sana. Halaman parkir diperluas dengan merelokasi bangunan. Kantor Departemen Agama, Pengadilan Agama, dan Gedung Dakwah Islam yang mengapit masjid tersebut.

Arsitektur Dan Fasilitas Masjid Agung Sumedang

Arsitektur masjid yang bercorak Cina, dengan jumlah tiang seluruhnya 166 buah. 20 buah jendela dengan tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Pada bagian depan terdapat ukiran kayu jati sebagai ornamen yang dibuat tahun 1850. Di masjid ini terdapat 3 buah beduk berukuran panjang 3 meter dan diameter 0,6 meter. Menara azan utama berbentuk Limas disebut mamale dengan tinggi 35,5 meter. Mimbar terbuat dari kayu jati degan 4 tiang dan sudah berusia 120 tahun. Setelah proses restorasi tuntas perpanduan arsitektur etnis Tionghoa. Dengan islam kian kentara pada atap masjid bersusun tiga mirip bagunan pagoda, kelenteng atau vihara.

Pada bagian puncak bertengger sebuah mustaka yang menyerupai mahkota raja-raja di masa lalu. Pada bagian atas kusen pintu dan jendela, penuh dengan ukiran kayu yang konon menorehkan citra ukiran model Cina. Demikian pula pada bagian mimbar, terdapat sebuah properti yang penuh dengan ukiran bergaya Cina. Terciptanya yang perbaduan arsitektur etnis Tionghoa dengan isalam itu. Yang bermula dari masuknya sejumlah imigrasi dari daratan Cina ke Sumedang ynag hampir bersama. Dengan pembangunan masjid, Pangeran Soegih selanjutnya memberi tempat pemukiman bagi mereka di sebelah utara pusat Pemerintahan Kabupaten Sumedang. Hingga kini, tempat itu dikenal dengan sebutan Gunung Cina.

Kitab Suci Alqur’an Raksasa Di Masjid Agung Sumedang

Kitab suci Al-Qur’an kayu di masjid yang berdiri megah di pusat Kota Tahu ini, ditempatkan di depan masjid. Keberadaannya menarik perhatian sejumlah jamaah yang baru kali pertama bertandang. Banyak jamaah yang mengabadikan diri di samping Al-Qur’an kayu ini.

Masjid Agung Sumedang juga di lengkapi dengan fasilitas perpustakaan yang terbuka untuk umum. Di gedung perpustakaan ini juga menjadi sekretariat Ikatan Remaja Masjid Agung (IRMA) Sumedang dengan berbagai aktifitas mereka. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh IRMA Sumedang ini adalah penyelenggaaan Gebyar Kampung Ramadhan. Selama bulan Suci Ramdhan tahun 2010, bekerja sama dengan salah satu produsen obat ternama.

Pengajian Rutin Di Masjid Agung Sumedang

Masjid Agung Sumedang ini sangat cukup makmur dengan kegiatan pengajian dan pengajaran islam. Salah satu pengajian di masjid ini sudah di kelola oleh Pondok Pesantren Asy-Syifaa’wal Mahmuudiyyah. Yang menyelenggarakan pengajian rutin untuk umum di Masjid agung Sumedang. Setiap malam Jum’at dua minggu seklai mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.

Ciri Khas Masjid Agung Sumedang

Ciri khas yang paling menonjol pada bangunan Masjid Agung Sumedang adalah banyak nya tiang penyangga. Tiap penyangga ini hanya di buat dari susunan bata yang di bulatkan dengan ukuran besar. Terdapat 166 tiang, yang terdiri atas tiang utama bagian dalam sebanyak 14 buah. Dengan diameter 100 cm dan tiang utama bagian luar sebanyak 106 buah dengan diameter 60 cm. Dilihat dan segi artistik, tiang-tiang tersebut jadi ciri khas kearsitekan masjid kuno dan antik bergaya abad ke-19. Baca juga tempat wisata air gajah depa sumedang

Bagian atas kusen pintu dan jendelanya penuh dengan hiasan ukiran kayu yang konon menorehkan citra ukiran model Cina. Pada bagian mimbar juga terdapat sebuah properti yang penuh dengan ukiran bergaya Cina. Pada bangunan bagian dalam terdapat ventilasi berupa jendela dan pintu yang berbeda ventilasi. Dengan bangunan modern, sedangkan emperan depan dan pinggir tidak memakai dinding atau tembok. Jumlah jendela di bangunan dalam terdapat 20 buah dengan tinggi empat meter. Dan lebar satu setengah meter, terbuat dari kayu jati dengan jumlah pintu utama sebanyak tiga buah.

Lokasi Masjid Agung Sumedang

Masjid Agung Sumedang terletak di Jalan Prabu Geusan Ulun, Kelurahan Regol Wetan, kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang provinsi Jawa Barat.

Pencarian Terbaru: