Tempat Wisata Beribadah Non Muslim Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Kelenteng Jin De Yuan Jakarta merupakan salah satu kelenteng tertua dia kota Jakarta. Yang didirikan pertaman kali pada 1650 oleh seorng Letnan Keturunan Tionghoa bernama Kwee Hoen. Kelenteng Jin De Yuan berada di Jl. Kemenangan III No 13 (Petak 9) Glodok. Dan karena kelenteng Tri Dharma maka ia memiliki altar untuk penganut Tao, Confucius dan Budha.

Sejarah Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Kelenteng Jin De Yuan jakarta

Menurut sinolog Claudine Salmon, walau tidak ditemukan buktinya, kelenteng ini kemungkinan terbakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1740. Kelenteng dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Selama abad ke-17 tidak ada informasi yang jelas mengenai Kim Tek Ie. Pada abad ke-18, seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat. Kim Tek Ie dikenal sebagai objek wisata ibadah masyarakat Tionghoa yang terpenting di Batavia. Setiap pemuja diterima dengan terbuka dan menjadi tempat wisata Jakarta beribadah yang banyak dikunjungi pejabat-pejabat. Seorang Mayor Tionghoa pernah menyumbangkan dana untuk pemugaran kelenteng.

Perubahan Nama Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Sejak peristiwa tahun 1965, terjadi tindakan pemutusan terhadap akar ketionghoaan dan pembauran dengan masyarakat Indonesia dianjurkan kepada orang Tionghoa. Hal yang sama terjadi dengan kelenteng dan kuil yang memiliki nama Tionghoa. Tempat-tempat ini dianjurkan untuk menghilangkan atau menyembunyikan unsur-unsur Taois yang ada dan menonjolkan sifat Buddhis kelenteng. Nama Sansekerta dipilih oleh lembaga Dewan Wihara Indonesia (DEWI). Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan adalah Kelenteng Keutamaan Emas.

Kebeakaran Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2015 dinihari, Klenteng Kim Tek Ie mengalami kebakaran. Diduga penyebab kebakaran berasal dari api lilin. Dalam kebakaran ini, bangunan utama beserta rupang-rupang ikut musnah terbakar. Terkecuali rupang Kwan Im dan dua rupang lainnya yang berhasil diselamatkan.

Pengelolaan Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Semenjak berdirinya, Kim Tek Ie dikelola oleh sebuah organisasi masyarakat Tionghoa yang dibentuk oleh Belanda. Setelah tahun 1740, Gubernur Jenderal Von Imhoff (1743-1750) membentuk dewan catatan sipil. Untuk masyarakat Tionghoa Batavia, dibentuklah Kong Koan. Kong Koan mengelola kelenteng-kelenteng besar dan pemakaman Tionghoa. Opsir Dewan Kong Koan ikut menyumbangkan dana untuk kegiatan upacara dan pemugaran. Selain itu, pada tahun 1900-an, Kim Tek Ie tercatat. Menerima uang sewa dari rumah-rumah yang dibangun di atas tanah milik kelenteng.

Setelah kemerdekaan Indonesia, dukungan terhadap Kong Koan merosot. Ketika lembaga itu bubar, pengelolaan diteruskan oleh Dewan Wihara Indonesia (DEWI). Kelenteng Kim Tek Ie dikelola oleh seseorang yang menjabat Kepala Pedupaan (Lu-zhu) bersama asistennya. Mereka mulai mengambil alih berbagai kegiatan kelenteng, seperti mengumpulkan dana dan penyelenggaraan upacara. Kemungkinan Lu-zhu dipilih dari kalangan pengusaha.

Festival Dan Perayaan Terkenal Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Kelenteng Kim Tek Ie sejak lama dikenal sebagai pusat perayaan hari-hari raya Tionghoa. Antara lain Cioko yang dilaksanakan di halaman kelenteng. Sebelum Perang Dunia II, pada Hari Raya Waisak, diadakan suatu. Opera Tionghoa Peranakan dalam Bahasa Indonesia yang ikut diramaikan dengan permainan musik Keroncong.

Arca Giok Hong Siong Te di Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Arca Giok Hong Siong Te di Kelenteng Jin De Yuan, dewa tertinggi penguasa alam semesta. Giok Hong Tai Tee adalah putra Raja Jing De dan Ratu Bao Yue Guang dari negeri Guang Yan Miao Le. Ia melepaskan kedudukan raja dan pergi ke gunung untuk menjadi Maha Dewa. Giok Hong Tai Tee bertahta di langit ke-33 di Ling Xiao Bao Dian atau Istana Halimun Mukjizat. Tambur tua dan genta terlihat menggantung di blandar. Masjid di Jawa umumnya juga menggunakan bedug sebagai penanda masuk waktu sholat. Masuknya bedug ke masjid mungkin karena sebagian Wali Songo merupakan keturunan Tionghoa. Di kelenteng ini ada pula lonceng tertua di Jakarta bertahun 1825, dan lonceng asal Fu Shou bertahun 1890.

Pada altar Cay Sin Ya di Kelenteng Jin De Yuan ada sepasang naga emas dengan ekor tegak lurus. Semasa hidupnya, Cay Sin Ya adalah menteri bijaksana yang menjabat di akhir masa Dinasti Siang (1766 – 1123 SM). Ia dipercaya sebagai titisan Dewa Bintang Sastra Bun Khiok Seng, dan sebagai Dewa Harta Sipil, kekuasaannya adalah menjaga harta kekayaan. Altar Er Lang Shen dan Thien Kou agak mirip dengan altar sebelumnya. Er Lang Shen adalah Malaikat Pelindung Kota Sungai. Yang hidup di zaman dinasti Qin, dan merupakan putra Li Bing, Gubernur dari propinsi Xi Chuan. Di bawah papan nama Thien Kou ada tulisan “Dog of Heaven” atau Anjing Surga, mungkin dimaksudkan sebagai penjaga surga.

Kelenteng Jin De Yuan Jakarta

Altar Sam Koan Tay Tee di Kelenteng Jin De Yuan. Sam Goan Kong, sebagai Tri Murti Tao merupakan wakil Tuhan dalam. Wujud Kaisar Tiga Dunia (Langit, Bumi dan Air). Yaitu Kaisar Giauw (2275 – 2258 SM memberi rahmat), Kaisar Sun (2225 – 2208 SM. Memberi pengampunan dosa), dan Kaisar Ie (2205 – 2197 SM, menjaga bumi dari bencana alam). Ada pula altar Hian Thian Siang Tee (Giok Hong Tai Te) dan Hian Than Kong. Giok Hong Tai Te lahir beberapa kali sebagai putra mahkota yang meninggalkan kehidupan dunia untuk menjadi pertapa. Ia akhirnya mencapai tingkatan dewa bergelar Hian Thian Siang Te, dan berkuasa di Langit Utara. Menaklukan berbagai siluman, termasuk siluman ular dan siluman kura-kura.

Hian Than Kong adalah stitisan Dewa Bintang Harta (Cay Pek Seng Kun), yang memberi berkah dan rezeki. Hian Than Kong biasanya digambarkan menunggang harimau hitam (Hek Houw), memegang ruyung dan emas lantakan. Altar lainnya di Kelenteng Jin De Yuan adalah altar Seng Hong Ya. Thay Swee Ya dan Kong Tek Cun Ong yang berada di sayap kanan. Seng Hong Ya adalah penguasa alam baka. Ia dipuja karena jujur dan idealis. Thay Swee Ya adalah salah satu dari 60 Dewa Bintang. Bila shio seseorang sama dengan shio pada tahun berjalan, maka kondisinya dinamakan. Ciong Thay Swee (kurang harmonis), dan harus lebih banyak bersembahyang kepada Thay Swee Ya agar terhindar dari hal yang merugikan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!