Tempat Wisata Kampung Adat Kuta Ciamis Jawa Barat

Kampung Kuta atau bisa di sebut kampung adat kuta Ciamis ini masih teguh dengan kebudayaan adat leluhur. Yang ada di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, kabupaten Ciamis, Jawa Barat. objek wisata ini terdiri dari Rt 04 / Rw 02. Ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, dusun margamulia di sebelah barat. Dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang. Tempat wisata Ciamis. Baca juga tempat wisata masjid agung

Sejarah Kampung Kuta Adat Ciamis

Nama kampung kuta ini mungkin di berukan nama sesuai dengan lokasi kampung adat. Yang berada di lembah yang sangat curam , kurang lebih 75 meter dan di kelilingi oleh tebing maupun bukit – bukit. Dalam bahas sunda buhun kuta artinya pagar tembok. Ada beberapa cerita tentang asal usul kampung adat kuta Ciamis ini.  Penduduk setempat percaya, sejarahnya berkaitan dengan pendirian kerajaan Galuh. Kampung Kuta konon awalnya dipersiapkan sebagai ibukota kerajaan Galuh, namun tidak jadi. Kampung kuta ini juga berkaitan dengan cerita Tuan Batasela dan Aki Bumi.

Kampung Adat Kuta Ciamis

Diceritakan bahwa ibu kota Galuh yang diterlantarkan selama beberapa lama ini menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Mataram. Masing-masing raja ini kemudian mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, sedang Raja Mataram mengutus Tuan Batasela. Sebelum ke Kuta, Raja Cirebon berpesan kepada sang utusan bahwa jika didahului. Oleh utusan dari Mataram, ia tidak boleh memaksa menguasai Kuta. Ia harus mengundurkan diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati.

Pesan Yang di Utus

Pesan yang sama juga didapat oleh Tuan Batasela. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya masing-masing. Tuan Batasela berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung. Jalan yang dilaluinya tersebut hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang. Dari Jawa Tengah ke Jawa Barat bernama penyebrangan “Pongpet”. Adapun Aki Bumi, dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui sebuah jalan curam. Yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama “Regol”, sehingga tiba lebih dulu di Kampung Kuta. Sesampainya di Kuta, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban-penertiban. Seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang disebut “Pamarakan”. Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim. Di kampung tempat ia bermalam, yang terletak di utara Kampung Kuta.

Menurut cerita, utusan dari Mataram itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta. Kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi. Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa, “Di kemudian hari. Tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu.” menurut cerita, kutukan tersebut terbukti.  Hingga saat ini rakyat di kampung tersebut tidak ada yang kaya. Karena menderita terus, Tuan Batasela kemudian bunuh diri dengan keris. Darah yang keluar dari lukanya berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut “Cibodas”. Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas. Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal.  Ia lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya. Tempat makam itu disebut “Pemakaman Aki Bumi”.

Upacara Adat

Salah satu adat yang masih sering di lakukan adalah upacara adat Nyuguh. Upacara ini  di lakukan pada tanggal 25 Shapar pada setiap tahunnya. Sesuai kebiasaan pada zaman dahulu acara ini harus di pinggir sungai cilojang yang berbatasan langdung dengan kabupaten Cilacap, jawa tengah

Larangan Atau Tradisi  Yang Masih Dipertahankan

Untuk memasuki wilayah hutan keramat ini diberlakukan sejumlah larangan. Yaitu tidak boleh memanfaatkan dan merusak sumber daya hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas. Memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh.  Bahkan juga tidak boleh memakai alas kaki. Semua larangan-larangan ini bertujuan untuk menjaga hutan tidak tercemar dan tetap lestari. Maka tidak heran di Leuweung Gede masih terlihat kayu-kayu besar dan tua. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka.

Karena ketaatannya dalam menjaga kelestarian lingkungannya, pada Tahun 2002 Kampung Kuta memperoleh penghargaan Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Larangan-larangan lain yang berlaku di luar Leuweung Gede tapi masih termasuk wilayah Kampung Adat Kuta Ciamis pun wajib dipatuhi. Seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, mengubur jenazah di kampung ini. Memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan. Mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan malapetaka bagi mereka yang melanggarnya.