Tempat Wisata Gunung Ciremai Kuningan Jawa Barat

Puncak tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai Kuningan objek wisata ini memang banyak dilirik untuk pendakian. Puncaknya Ciremai menyimpan banyak keindahan. Gunung dengan ketinggian 1.072 mdpl ini jadi salah satu tempat wisata Kuningan terbaik melihat mekarnya bunga edelweiss saat musim kemarau. Selain itu, letaknya yang sangat dekat dengan Pantai Utara Jawa, membuat siapapun di. Yang naik ke atasnya bisa bisa menyapu pandang ke arah laut lepas. Gunung ini memeliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl. Dilereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Daya Tarik Tempat Wisata Gunung Ciremai Kuningan

Gunung Ciremai Kuningan

Kini gunung ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai Kuningan (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektar. Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam). Namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama. Tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan ‘ci-‘ untuk penamaan tempat.

Lokasi Tempat Wisata Gunung Ciremai Kuningan

Secara administratif gunung ciremai berada dalam wilayah tiga Kabupaten yaitu, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan. Terdapat tiga jalur yang bisa digunakan pendaki yaitu jalur apuy, jalur palutungan dan jalur linggar jati.

Vulkanologi dan geologi Gunung Ciremai Kuningan

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan. Dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur. Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937. Dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah barat daya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

Rute Menuju Tempat Wisata Gunung Ciremai Kuningan

Rute pendakian melalui jalur Jati yang terletak di kabupaten Kuningan dapat dimulai dengan perjalanan menuju Kuningan. Yang dapat anda tempuh menggunakan bis jurusan Cirebon-Kuningan dari terminal Cirebon. Berhenti di Cilimus, dilanjutkan dengan naik ojek atau colt menuju desa linggar jati yang berjarak sekitar 24 kilometer dari Cirebon. Dari pertigaan linggar jati, perjalanan dilanjutkan menuju museum linggar jati yang pernah menjadi saksi sejarah penandatanganan perjanjian linggar jati itu. Sekitar 500 meter dari museum, terdapat pos penjagaan untuk mengurus administrasi pendakian.

Dari sini pendakian bisa dimulai melewati jalan beraspal diantara sawah penduduk. Dan hutan pinus menuju Cibeunar yang berada di ketinggian 750 mdpl. Manajemen air sangat diperlukan dalam pendakian ini, karena di lokasi inilah. Terdapat sumber air melimpah yang tak dapat ditemukan lagi di perjalanan menuju puncak. Tujuan selanjutnya adalah Leuweng Datar (1285 mdpl) yang berada di kawasan hutan tropis.

Dari Leuweng Datar, perjalanan dilanjutkan menuju Kuburan Kuda (1580 mdpl). Melewati beberapa pos yakni Sigedang dan Kondang Amis (1380 mdpl) selama kurang lebih dua jam perjalanan. Kuburan Kuda merupakan dataran luas dan teduh, cocok untuk mendirikan tenda. Tempat ini juga dianggap keramat oleh penduduk. Jalur pendakian akan semakin curam dengan melewati beberapa titik seperti Pengalap (1790 mdpl) dan tanjakan Seruni (1825 mdpl). Tanjakan Seruni merupakan bagian terberat, dimana pendaki harus setengah memanjat dengan mengandalkan akar pepohonan untuk mencapai tanjakan Bapatere (2200 mdpl). Jika musim hujan, tanjakan seruni bisa lebih sulit lagi karena merupakan jalur lintasan air, sehingga hampir serupa dengan air terjun.